Senin, 08 Desember 2014

ASKEP BPH



Asuhan Keperawatan (Askep) BPH

A. Pengertian
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).

B. Etiologi

Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.

Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :Teori Sel Stem (Isaacs 1984)
Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.
Teori MC Neal (1978)
Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.


C. Anatomi Fisiologi

Kelenjar proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang melingkari urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos terletak di bawah kandung kemih dan melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran panjang : 3-4 cm dan lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine, kelenjar prostat terdiri dari lobus posterior lateral, anterior dan lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan alkalis pada cairan seminalis.

D. Patofisiologi

Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.

          Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.


E. Tanda dan Gejala
  • Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)
  • Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.
  • Rasa nyeri saat memulai miksi/
  • Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).

F. Komplikasi
  • Aterosclerosis
  • Infark jantung
  • Impoten
  • Haemoragik post operasi
  • Fistula
  • Striktur pasca operasi & inconentia urine

G. Pemeriksaan Diagnosis
  1. Laboratorium

    Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.

  1. Radiologis
Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).
  1. Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
  1. Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.

H. Penatalaksanaan
  1. Non Operatif
    • Pembesaran hormon estrogen & progesteron
    • Massase prostat, anjurkan sering masturbasi
    • Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek
    • Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin & dengostan
    • Pemasangan kateter.

  1. Operatif
    Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml
    • TUR (Trans Uretral Resection)
    • STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)
    • Retropubic Extravesical Prostatectomy)
    • Prostatectomy Perineal

















Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)


A. Pengkajian
  1. Data subyektif :
    • Pasien mengeluh sakit saat miksi.
    • Pasien mengatakan tidak bisa miksi sejak 5 jam yang lalu.
    • Pasien selalu mengatakan tidak puas saat miksi dan urinnyaa terputus-putus.
    • Pasien mengatakan dia merasa demam dan menggigil.
  2. Data Obyektif :
    • Ada distensi vesika urinaria
    • Ttv :TD 150/80 mmHg,N 98 x /m,R 23 x/m,S 37,90 C.

Pengkajian primer
A (Airway)             : Tidak Ada sumbatan Jalan Nafas
B (Breathing)        : RR : 23X/menit
C (Circulation)      : Tidak ada sianosis,TD 150/80 mmHg
D (disability)         : Klien Nampak sadar


B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
  1. Retensi urin berhubungan dengan obstruksi
  2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter

  1. Deficit perawatan diri

Diagnosa
Noc
Nic
1
Retensi urin
Defenisi definisi : Keadaan ketika individu mengalami ketidaksempurnaan pengosongan kandung kemih
                   Batasan Karakteristik :
·         Ketiadaan pengeluaran urin
·         Distensi kandung Kemih
·         Menetes
·         Dysuria
·         Frekuensi pengeluaran
·         Inkontinensia : Meluap
·         Sisa urin
·         Sensasi penuhnya urin
·         Sedikit Pengosongan
Faktor Resiko :
·         Halangan/blokade
·         Tekanan Uretra Tinggi
·         Inhibisi reflek arc
·         Spinkter kuat

Nyeri
Definisi : Sensori dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan aktual atau potensial, muncul tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang bisa diantisipasi atau diduga dan berlangsung kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
-    Laporan secara verbal atau non verbal adanya nyeri
-    Fakta dari observasi
-    Posisi untuk menghindari nyeri
-    Gerakan melindungi
-    Tingkah laku berhati-hati
-    Muka topeng
-    Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
-    Terfokus pada diri sendiri
-    Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
-    Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang)
-    Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil)
-    Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)
-    Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis,
Kriteria Evaluasi (NOC):
1.      Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ….x 24 jam, klien dapat:
Miksi dengan normal
1.  










    .      Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ….x 24 jam, klien dapat:
    Mengontol nyeri
        Definisi : tindakan seseorang untuk mengontrol nyeri
    ndikator:
§ Mengenal faktor-faktor penyebab
§ Mengenal onset/waktu kejadian nyeri
§ tindakan pertolongan non-analgetik
§ Menggunakan analgetik
§ melaporkan gejala-gejala kepada tim kesehatan (dokter, perawat)
§ nyeri terkontrol
Keterangan:
1     = tidak pernah dilakukan
2     = jarang dilakukan
3     = kadang-kadang dilakukan
4     = sering dilakukan
5     = selalu dilakukan
 2.  Menunjukkan tingkat nyeri
Definisi : tingkat keparahan dari nyeri yang dilaporkan atau ditunjukan
Indikator:
§ Melaporkan nyeri
§ Frekuensi nyeri
§ Lamanya episode nyeri
§ Ekspresi nyeri: wajah
§ Posisi melindungi tubuh
§ Kegelisahan
§ Perubahan Respirasirate
§ Perubahan Heart Rate
§ Perubahan tekanan Darah
§ Perubahan ukuran Pupil
§ Perspirasi
§ Kehilangan nafsu makan
Keterangan:
    1 :  berat
    2 :  agak berat
    3 :  sedang
    4 :  sedikit
    5 :  tidak ada
1.   Intervensi Keperawatan (NIC) :
  1. Aliran Kandung Kemih
  2. Manajemen cairan
  3. Pengontrolan Cairan
  4. Perawatan Saluran Urin
  5. Kateterisasi Urin
  6. Kateterisasi Urin : Sementara
  7. Manajemen Eliminasi Urin
  8. Perawatan Retensi Urine






    Manajemen Nyeri

Definisi : perubahan atau pengurangan nyeri ke tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien
Intervensi:
-  Kaji secara menyeluruh tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik,waktu kejadian, lama, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor pencetus
-  Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
-  Berikan analgetik sesuai dengan anjuran
-  Gunakan komunkasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
-  Kaji latar belakang budaya klien
-  Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan, aktifitas mood, hubungan, pekerjaan, tanggungjawab peran
-  Kaji pengalaman individu terhadap nyeri,  keluarga dengan nyeri kronis
-  Evaluasi  tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan
-  Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
-  Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan
-  Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan  (contoh : temperatur ruangan, penyinaran, dll)
-  Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri
-  Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
-  (ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase)
-  Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol  nyeri yang telah digunakan
-  Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
-  Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan
-  Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan  (contoh : temperatur ruangan, penyinaran, dll)
-  Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri
-  Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
-  (ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase)
-  Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri
-  Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon klien
-  Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
-  Anjurkan klien untuk berdiskusi tentang pengalaman nyeri secara tepat
-  Beritahu dokter jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan
-  Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota keluarga saat tindakan nonfarmakologi dilakukan, untuk pendekatan preventif
-  monitor kenyamanan klien terhadap manajemen nyeri
2.  Pemberian Analgetik
 Definisi : penggunaan agen farmakologi  untuk   mengurangi atau menghilangkan nyeri
Intervensi:
-  Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas,dan keparahan sebelum pengobatan
-  Berikan obat dengan prinsip 5 benar
-  Cek riwayat alergi obat
-  Libatkan klien dalam pemilhan analgetik yang akan digunakan
-  Pilih analgetik secara tepat /kombinasi lebih dari satu analgetik jika telah diresepkan
-  Tentukan pilihan analgetik (narkotik, non narkotik, NSAID) berdasarkan tipe dan keparahan nyeri
-  Monitor tanda-tanda vital, sebelum dan sesudah pemberian analgetik
-  Monitor reaksi obat dan efeksamping obat
-  Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek-efek yang tidak diinginkan
Lakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan efek analgetik (konstipasi/iritasi lambung)
3. Manajemen lingkungan : kenyamanan
Definisi : memanipulasi lingkungan untuk kepentingan terapeutik
Intervensi :
-  Pilihlah ruangan dengan lingkungan yang tepat
-  Batasi pengunjung
-  Tentukan hal-hal yang menyebabkan ketidaknyamanan seperti pakaian lembab
-  Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
-  Tentukan temperatur ruangan yang paling nyaman
-  Sediakan lingkungan yang tenang
-  Perhatikan hygiene pasien untuk menjaga kenyamanan
-  Atur posisi pasien yang membuat nyaman.
2
-       

1.      
3
Kurang pengetahuan tentang : penyakit, diet, pengobatan 
Definisi : tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topik spesifik
Batasan karakteristik : memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai.
Faktor yang berhubungan : keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam pengetahuan klien dan keluarga meningkat tentang:
1. Proses penyakit
Indikator:
-       Mengenal  nama penyakit
-       Menjelaskan proses penyakit
-       Menjelaskan penyebab/fakor yang berkontribusi
-       Menjelaskan factor-faktor resiko
-       Menjelaskan efek dari penyakit
-       Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
-       Menjelaskan tentang komplikasi dan tanda gejalanya
-       Menjelaskan tentang perawatan dirumah
Keterangan:
1 : tidak pernah
2 : terbatas
3 : sedang
4 : Sering
5 : Selalu
2. Diet, dengan indikator:
-    Menggambarkan diet yang dianjurkan
-    Menyebutkan  keuntungan dari mengikuti anjuran diet
-    Menyebutkan tujuan dari diet yang yang dianjurkan
-    Menyebutkan makanan-makanan yang diperbolehkan dalam diet
-    Menyebutkan makanan-makanan yang dilarang
-    Memilih makanan-makanan yang dianjurkan dalam diet
Keterangan:
1  :  Tidak pernah
2  :  Terbatas
3  :  Sedang
4  :  Luas
5  :  Sangat luas
3.  Pengobatan, dengan indikator:
-    Menggambarkan metode pengobatan yang tepat
-    Menggambarkan tindakan-tindakan dalam pengobatan
-    Menggambarkan efek samping dalam pengobatan
-    Menyebutkan interakasi obat dengan agen yang lainnya
-    Menyebutkan rute pemberian obat yang tepat
Keterangan :
1  :  Tidak pernah
2  :  Terbatas
3  :  Sedang
4  :  Luas
5  :  Sangat luas

1. Pendidikan kesehatan: Proses penyakit

-         Gali pengetahuan tentang proses penyakit
-        Jelaskan patofisiologi penyakit
-        Jelaskan tanda dan gejala penyakit
-        Terangkan proses penyakit
-        Identifikasi proses kemungkinan penyebab
-        Berikan informasi tentang kondisi pasien
-        Hindari memberi harapan palsu
-        Berikan informasi kondisi pasien pada keluarga
-        Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah komplikasi di masa depan
-        Diskusikan pilihan terapi
-        Terangkan rasional tindakan
-        Terangkan komplikasi kronik
-        Terangkan tanda dan gejala yang harus dilaporkan
-        Jelaskan cara mencegah atau meminimalkan efek samping penyakit.
2. Ajarkan : Diet
-  Kaji pengetahuan klien tentang diet yang dianjurkan
-  Tentukan sikap keluarga klien terhadap diet
-  Jelaskan tujuan diet
-  Informasikan berapa lama diet harus diikuti
-  Anjarkan klien tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan
-  Bantu klien untuk mencatat makanan kesukaan dalam diet yang dianjurkan
-  Observasi pilihan makanan klien sesuai dengan diet yang dianjurkan
-  Anjurkan membuat rencana makan
-  Dorong untuk mengikuti informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan lain
-  Konsul ahli gizi
-  Libatkan keluarga
2.  Ajarkan : pengobatan
-  Jelaskan klien utk mengenal karakteristik obat
-  Informasikan nama generik dan nama dagang
-  Jelaskan tujuan dan kerja obat
-  Jelaskan dosis, rute dan durasi obat
-  Evaluasi kemampuan klien menggunakan obat
-  Ajarkan klien untuk melakukan prosedur sebelum minum obat
-  Informasikan apa yang dilakukan jika dosis obat hilang
-  Informasikan akibat  tidak minum obat
-  Informasikan efek samping obat
-  Jelaskan tanda dan gejala over dosis obat
-  Jelaskan cara menyimpan obat
-  Jelaskan interaksi obat
-  Jelaskan cara mencegah atau mengurangi efek samping obat
-  Berikan informasi tertulis tentang aksi, tujuan, efek samping obat, dll
4

Sindroma Defisit Perawatan Diri

(kurang perawatan diri : mandi, berpakaian, makan, dan toileting)
Definisi :
Gangguan kemampuan untuk melakukan ADL pada diri
Batasan karakteristik : ketidakmampuan untuk mandi, ketidakmampuan untuk berpakaian, ketidakmampuan untuk makan, ketidakmampuan untuk toileting
Faktor yang berhubungan : kelemahan, kerusakan kognitif atau perceptual, kerusakan neuromuskular/ otot-otot saraf.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama … x 24 jam, klien mampu melakukan perawatan diri: Activities  of Daily Living (ADL), dengan indikator:
-          makan
-          berpakaian
-          toileting
-          mandi
-          berhias
-          hygiene
-          oral hygiene
-          ambulasi: berjalan
-          ambulasi: wheelchair
-          transfer performance
Keterangan:
1:  bergantung total
2 : dibantu orang dan alat
3 ; dibantu orang
4 : dibantu alat
5:  mandiri
1.Bantu dalam perawatan diri (mandi, berpakaian, berhias, makan, toileting)
Definisi : membantu pasien untuk memenuhi ADL
Intervensi :
§  Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
§  Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
§  Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
§  Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
§  Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
§  Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
§  Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
§  Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari. 












Daftar Pustaka

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.
http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/08/asuhan-keperawatan-askep-bph.html

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.